nulebak.or.id - Dikisahkan dari oleh Abdullah ibn al-Mubarak beliau berkata : Dulu aku pernah berada di kota
Mekah. Pada saat itu disana terjadi bencana kekeringan yang hebat (Arab : al-qahth).
Masyarakat telah melakukan shalat untuk memohon hujan kepada Allah SWT tapi
keadaannya semakian bertambah parah. Hal itu berlangsung selama satu minggu
(Arab : jum’ah). Setelah itu orang-orang keluar lagi menuju Arafah untuk
memohon hujan kepada Allah SWT.
Di antara mereka terdapat seorang lelaki yang kulitnya berwarna hitam dan badannya kelihatan lemah. Lalu
lelaki itu shalat dua rakaat lalu berdoa sambil sujud dan berkata : “ Demi
kemuliaan-Mu aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud
sampai Engkau memberikan hujan kepada hamba-hamba-Mu “.
Tak lama kemudian, aku melihat sepotong awan muncul dan disusul oleh
sepotong yang lain yang akhirnya banyak lalu berkumpul dan menjadi tebal
sehingga langitpun menurunkan hujan dengan sangat deras. Lelaki tersebut kemudian memuji Allah (membaca hamdalah) dan pergi. Akupun
mengikutinya hingga dia kelihatan memasuki tempat milik pedagang budak lalu aku
pergi.
Keesokan harinya, aku membawa dirham (uang perak) dan dinar
(uang emas) dan mendatangi rumah sang pedagang budak diatas. Setelah sampai dan
bertemu dengannya aku mengutarakan keinginanku untuk membeli seorang budak.
Lalu dia memperlihatkan tiga puluh budak yang dimilikinya.
Aku bertanya padanya , “Apakah ada
yang lainnya?”.
“Masih ada satu lagi, dia tidak
pernah berbicara kepada siapapun“.
“ Coba kamu perlihatkan padaku “
pintaku padanya.
Akhirnya dia memengeluarkan budak persis seperti yang kulihat kemarin.
Kemudian aku menanyakan harga dia dulu membelinya.
Pedagang itu menjawab, “Aku membelinya
dengan harga dua puluh dinar. Kalau kamu mau beli cukup kamu bayar sepuluh
dinar saja “.
Aku menjawab, “Tidak, aku akan beli dengan harga yang lebih tinggi,
yaitu dua puluh tujuh dinar “.
Selesai transaksi jual beli, budak
itu lalu aku ambil dan aku bawa pulang. Karena
penarasan budak itu bertanya padaku,
”Mengapa tuan membeli saya padahal
saya tidak bisa melayani tuan “.
”Aku membelimu untuk kujadikan tuanku
dan aku yang akan melayaninmu“ kujelaskan tujuanku.
Diapun heran dan bertanya, ”Kenapa
kamu melakukan ini“?.
”Aku kemarin melihatmu berdoa kepada
Allah SWT dan langsung dikabulkan, dari kejadian tersebut aku mengetahui bahwa hal itu merupakan
karomahmu “ jelasku.
Mendengar penjelasanku, dia kaget dan
berkata, “Apakah kamu benar-benar melihat kejadian tersebut?.
“ Ya“ kataku.
Kemudian dia bertanya lagi , “ Apakah
kamu mau memerdekanku “ ?.
Aku jawab , “ Ya, kamu aku merdekakan
karena Allah SWT “.
Maka akupun mendengar suara tanpa rupa mengatakan, “Hai Ibn Mubarok,
bergembiralah sesungguhnya Allah telah mengampunimu“.
Selanjutnya lelaki itu berwudlu dan sholat dua rakaat lalu berkata , “Alhamdulillah,
ini baru kemerdekaan yang diberikan oleh manusia, lalu bagaimana rasanya
kemerdekaan yang diberikan Allah SWT (maksudnya dimerdekakan dari neraka besok
diakherat tentulah lebih sangat membahagiakan)“.
Kemudian dia berwudlu dan shalat dua rakaat lagi, dan berkata , “ Ya
Tuhanku, Engkau tahu aku telah beribadah pada-Mu selama
tiga puluh tahun, perjanjian diantara kita adalah bahwa Engkau akan menutupi
rahasiaku, maka dari itu karena Engkau telah membuka rahasiaku aku mohon ambillah
nyawaku”. Seketika dia tersungkur tidak sadarkan diri dan ternyata telah
meninggal dunia.
Lalu aku mengkafaninya dengan asal-asalan (tidak dengan baik)
kemudian aku shalati dan kuburkan. Ketika
tidur, aku bermimpi bertemu seorang lelaki yang tampan dan memakai pakaian yang
indah bersama lelaki besar yang juga berpakaian indah. Keduanya bergandengan
dengan meletakkan tangan masing-masing dipundak yang lainnya. Lelaki yang
tampan itu berkata padaku, “Hai Ibn Mubarok, apa kamu tidak malu kepada Allah
SWT “ ?. Kemudian ia berjalan. “ Siapa kamu “ ? tanyaku. “ Aku Muhammad dan ini
bapakku Ibrahim “ jawabnya. Akupun bertanya , “ Bagaimana aku tidak malu pada
Allah SWT, padahal aku sudak benyak melakukan shalat ? “. Lalu beliau menjelaskan,
“ Salah seorang wali Allah SWT telah wafat dan kamu tidak mengkafanimya dengan
baik “.
Maka keesokan harinya, jenazahnya aku keluarkan dari kuburnya lalu aku
kafani dengan kain kafan yang bersih kemudian aku shalati dan kubur kembali.
Semoga Allah memberi rahmat padanya.
(Diterjemahkan abihaekal mhz dari kitab An-Nawadir karangan Syaikh
Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi halaman 6-7.)
Hikmah kisah :
·
Wali ada yang
masyhur (terkenal) dan ada yang mastur (tertutup atau tidak
terkenal).
·
Jangan
menilai seseorang dari tampilan lahirnya saja. Sebab kita tidak tahu apa isi
hatinya. Juga kita tidak tahu apa yang dikerjakan ketika dia jauh dari kita.
·
Kita harus
menghormati dan berbuat baik pada waliyyullah.
·
Doa orang
shaleh dikabulkan Allah SWT.